This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 08 Januari 2015

Mencari Platform Politik Bersama

Anti-neoliberalisme

Sekelompok pemuda terus mengerek bendera persatuan. Meski diiringi dengan irama sumbang, tetapi mereka tetap yakin akan mencapai hasil. “Kalaupun kongres ini tidak melibatkan keseluruhan, kami berharap menemukan sebuah platform politik,” tegas Agus Jabo Priyono, salah satu penggagas Kongres Pemuda Pergerakan.
Katanya, tanpa ada sebuah platform politik bersama, maka perlawanan-perlawanan yang sudah ada akan cepat menguap dan kurang memiliki daya politik. Platform politik itu, menurut Agus Jabo, ibarat piston yang merapatkan uap sehingga bisa menggerakkan lokomotif perubahan.
Untuk itu, menurut Agus Jabo, kongres itu akan menyimpulkan problem pokok rakyat Indonesia. Dengan sebuah kesimpulan mengenai problem pokok bangsa, Agus Jabo dan kawan-kawan berharap bisa merumuskan strategi politik, yakni mendefenisikan siapa musuh, siapa kawan, dan sektor-sektor mana yang perlu dinetralisir.
Hal senada disampaikan oleh Masinton, Ketua Umum Repdem, yang menganggap perumusan bersama mengenai platform politik akan semakin memperkuat landasan persatuan. “Jika persatuan ini diikat dengan sebuah platform politik yang jelas dan tegas, maka daya tekannya pun akan bertambah kuat,” katanya.
Saat ini, katanya, ada banyak sekali persoalan yang muncul, tetapi semua persoalan itu bisa ditinjau akar penyebabnya. Masinton mengajak kaum pergerakan untuk mengidentifikasi mana persoalan yang sifatnya mendasar dan mana yang turunan.
>>>
Dari serangkaian pertemuan pra-kongres, masalah pokok yang sering diangkat oleh kaum pergerakan adalah penjajahan asing atau neo-kolonialisme. Akan tetapi, seperti apa dan bagaimana wujud konkret neo-kolonialisme itu, masing-masing organisasi pergerakan masih perlu menguraikan lebih lanjut.
Haris Rusli Moti, misalnya, memberi contoh konkret bagaimana neo-kolonialisme beroperasi di Indonesia melalui puluhan UU produk DPR dan pemerintah. Oleh karena itu, dalam kesimpulan Haris Rusli Moti, rejim SBY-Budiono dan DPR merupakan antek neo-kolonialisme.
Sedangkan bagi Desi Arisanti, yang berasal dari latar-belakang aktivis buruh, berusaha melihat perwujudan konkret neo-kolonialisme melalui eksploitasi tenaga kerja murah di Indonesia, penerapan sistim kerja kontrak dan outsourcing, dan terjadinya de-industrialisasi.
Lebih lanjut, menurut Desi Arisanti, kolonialisme baru saat ini tidak lagi mengambil bentuk penaklukan militer langsung, kendati masih terjadi sebagaimana kasus Libya, Irak, dan Afghanistan, tetapi melalui dominasi ekonomi dan pelemahan politik negara bangsa.
Agus Jabo, yang mengutip pidato Bung Karno di hadapan pengadilan kolonial, Indonesia Menggugat, berusaha menyebutkan empat ciri imperialisme atau neo-kolonialisme: (1) Indonesia tetap menjadi negeri pengambilan bekal hidup, (2) Indonesia menjadi negeri pengambilan bekal-bekal untuk pabrik-pabrik di eropa, (3) Indonesia menjadi negeri pasar penjualan barang-barang hasil dari macam2 industri asing, (4) Indonesia menjadi lapang usaha bagi modal yang ratusan-ribuan-jutaan rupiah jumlahnya.
>>>
Meskipun baru akan diputuskan dalam kongres, tetapi sejumlah inisiator sudah punya bayangan mengenai platform politik. Haris Rusli Moti, misalnya, yang mengomandoi Petisi 28, akan mengusulkan platform anti-nekolim dalam kongres nanti.
Hal serupa juga diakui oleh Wenry Anshory, aktivis dari FAM UI. Katanya, perjuangan pokok ke depan ini harus diarahkan untuk menghancurkan imperialisme. Bahkan, menurut mahasiswa UI ini, perjuangan itu harus menempuh jalan “revolusi”.
Menurut Agus Jabo, karena imperialisme terutama menghancurkan perekonomian nasional, melemahkan politik nasional, dan merusak kebudayaan nasional, maka konsep Bung Karno mengenai Trisakti sangat relevan untuk menjadi platform politik.
Konsep Trisakti Bung Karno mengandung tiga hal: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya. “Tiga konsep itu sangat relevan untuk menghancurkan imperialisme dan sekaligus menata kembali masa depan bangsa Indonesia,” kata Agus Jabo.
Sedangkan bagi Masinton, kendati juga mengambil gagasan Bung Karno, ia juga mengajukan tiga platform: nasionalisme , demokrasi, dan kerakyatan. Tiga platform itu, dalam keyakinan Masinton, hidup dan dianut oleh berbagai kelompok pergerakan di Indonesia.
Namun, kendati sudah ada gagasan-gagasan awal mengenai platform, tetapi para inisiator menyerahkan sepenuhnya kepada peserta kongres untuk merumuskan dan memutuskan platform politik bersama. (Agus Pranata)

Selasa, 30 Desember 2014

pics 1

ewqd

Senin, 06 Oktober 2014

Alhamdulillah. Dengan Rahmat Allah yang Maha Kuasa, kami segenap pengurus Redaksi PERS JURNAL MAHASISWA INDEPENDEN STAIN Malikussaleh Lhokseumawe mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Mahasiswa/i  yang telah mendukung terbentuknya PERS kampus ini..
Media ini dibentuk secara sederhana tanpa perayaan khusus sebagaimana diresmikannya lembaga-lembaga lain, dan karena itu para anggotanya pun adalah para mahasiswa relawan-relawan pers yang memang mempunyai minat besar dalam dunia pers..

Adapun motif didirikannya PJMI ini atas dasar rasa haus akan berita taupun info dalam ruang gerak lingkungan kampus..

Alasannya sederhana, begitu banyak even, ataupun peristiwa yang yang dilakukan Mahasiswa yang berpotensi sebagai berita tapi malah terbuang begitu saja tanpa ada liputan apa-apa. Bahkan kadang-kadang berita kampus kita duluan diberitakan oleh Koran-koran Lokal ataupun Portal-portal berita online sebelum kita tahu informasi tersebut langsung dari pihak yang bersangkutan di lingkup kampus.
Kemana Mahasiswa di Kampus kita? Apa tidak adakah wadah untuk menampung para generasi-generasi calon “Kuli Tinta” di STAIN MALIKUSSALEH ini??

Jika memang LEMBAGA PERS KAMPUS itu tidak ada, maka untuk apakah adanya JURUSAN DAKWAH dengan embel-embel KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM yang katanya bertujuan untuk melahirkan Wartawan-wartawan yang Islami itu?
Setelah Redaksi menilik dan mencari tahu kesana sini, ternyata lembaga ini ada, kami terkejut !
ada komentar salah satu senior kami yang beliau mengatakan; “Lembaga Pers itu ada, Hanya saja Mahasiswanya yang tidak ada, entah karena kurangnya minat Mahasiswa atau tidak adanya pengkaderan ini bisa saja menjadi sebuah Alasan”.
Lembaga apakah itu? Namanya LDK-Alfuqan & Lembaga Mahasiswa Dakwah El-Bayaan, dulunya kedua lembaga ini mengeluarkan output berupa Koran/ Tabloid kampus. Yang menjadi pertanyaannya,  kemanakah dua lembaga yang namanya sangat bernuansa Islami tersebut?

UKM LDK-Alfuqan & LP El-Bayaan yang dahulunya menjadi ujung tombak Mahasiswa/i yang aktif dibidang jurnalistik dan bermain di Lingkungan kampus ini kini Mati Suri, bisa dikatakan sama sekali tidak ada daya ataupun upaya untuk berdiri. Hingga timbul suatu prasangka dibenak Kami Mahasiswa, apakah penyebab berhentinya denyut nadi kedua lembaga Pers Kampus tersebut? Mungkinkah diakibatkan oleh tersendatnya Dana, tidak adanya pengkaderan atau bisa saja penyebab terbesarnya adalah matinya daya kreatifitas yang diakibatkan rasa bosan atau tidak dihargai? Wallahu A’alam..

Namun, jika berbicara tentang tersendatnya dana, bisa jadi ini sebuah lelucon bagi kita Mahasiswa dikasta bawah.  Sebagai mana kita ketahui bersama, setiap lembaga atau UNIT KEGIATAN KAMPUS (UKM) di STAIN MALIKUSSALEH selalu mendapatkan kucuran dana setiap tahunnya. Jadi jika ada Rombongan Mahasiswi LDK berjilbab panjang menutupi seluruh badan yang mengatakan, “Kami kekurangan Dana!” jelas ini adalah sebuah “Hoax (omong kosong.red), sama sekali tidak logis untuk diterima oleh akal”
 Dengan bantuan kucuran dana dari kampus setiap tahunnya (Dana kegiatan untuk setahun), apa tidak mampukah kedua lembaga tersebut menghasilkan satu saja karya Jurnalistik yang bisa membuat seluruh Mahasiswa kita tersenyum?. Baiklah, Satu koran saja dalam setahun, hanya sekedar untuk menutupi gerahnya kami akan aktivitas jurnalis di Area Kampus ini, saya rasa ini bukan permintaan sulit sesulit Permintaan Harun Al-Rasyid kepada Abu Nawas untuk memindahkan istana Raja ke puncak gunung Baghdad.
Ingatlah kawan, Efektivas lembaga tempat anda bernaung harusnya mencakupi seluruh kampus, bukan hanya berdiam diri berlari-berlari di satu gedung jurusan saja !!
Apkah dikampus ini sudah terbentuknya kasta-kasta sehingga setiap jurusan memiliki tingkat-tingkat yang tidak setara? Tentu saja tidak ada bukan.

Atas dasar inilah kami mengajak kawan-kawan Mahasiswa, marilah mulai sekarang kita cukupkan berdiam diri menunggu orang lain bertindak, karena tidak ada gunanya kita berharap kepada kedua Lembaga Pers Kampus tersebut, biarkan yang lain bermandikan uang, dan sebaliknya, kita bermandikan berita !!
Sebenarnya, Tidak ada secuil makna pun jika kami merongrong disini, bisa saja yang bersangkutan tidak dapat menjangkau isi tulisan ini, jika pun ada salah satu dari mereka membaca tulisan kami ini semoga saja ini bisa menjadi penyemangat atau bahan bakar untuk terus merebus kreatifitas  mereka, Salam Mahasiswa! .

Sedikit penjelasan, PJMI ini bersifat independen, artinya kami tidak berdiri ataupun terikat dengan lembaga-lembaga lainnya dilingkungan Kampus STAIN Malikussaleh Lhokseumawe,  kami tidak sekali-sekali mengharapkan kucuran dana tiap tahunnya dari kampus. Kami disini tidak memiliki kontrol bahasa ataupun kontrol opini, karena kami disini tidak untuk menjaga hati atau perasaan bagi siapa saja yang bertentangan dengan kode etik. Kami disini tidak untuk mengenal siapa pangkat anda, sesempurna apa ras anda, semegah apa suku bangsa anda, atau setinggi apa jabatan anda ataupun orang tua anda !!
Karena kami murni ingin mengkritik dan memberitakan fakta tanpa adanya rasa ketakutan. Alasannya karena keringat dibadan diciptakan Tuhan bukan untuk Rasa Ketakutan, melainkan untuk kelelahan dan kepuasan jiwa.
PJMI hadir disini murni untuk cita-cita kami sebagai wartawan, karena dengan beginilah kami menemukan jati diri kami sebagai Calon Wartawan masa depan, Amiin.



Redaksi PERS JURNAL